Refleksi Bangsa

Semua bangsa yang besar tidak lepas dari pikiran mistis dan sejarah, Yahudi yang percaya dengan paham eksodus, bangsa pilihan Tuhan yang berhak berada diseluruh sehingga memberikan peran yang penting disetiap bidang kehidupan. Kemudian India sebagai kuturunan arya sebagai pencerahan di muka bumi. Terakhir Jepang yang mempercayai dirinya sebagai keturuanan dewa matahari dan menganggap bangsanya pantas berada di panggung dunia. Sedangkan Indonesia memiliki pancasila namun nilai keskaralannya menghilang akibat gelombang materialistik dan krisis moral. Dimana peran Pemangku pemerintahan cenderung memamerkan dan mereduksi kepentingan bangsa. Politik yang dianut adalah politik kekuasan dengan janji pembodohan kepada masyarakat. Apalagi masyarakat yang krisis moral dan tidak berpendidikan. Selain itu terlihat proses demokrasi menghilangkan plan-plan jangka panjang bangsa, semuanya terlihat short plan. Siapa yang berkuasa akan memiliki rencana pembangunan yang berbeda. Jika kita melihat pembangunan sejarah demi sejarah dibutuhkan regenerasi tanpa menghilang tujuan universal bangsa. Melihat bangsa tiongkok yang membangun tembok besar selama 300 tahun, itu dilakukan dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu bangsa indonesia wajib melihat kembali sejarah dan menyusun kembali tujuan bangsa yang berkelanjutan sehingga bangsa besar ini bisa sejajar dengan bangsa yang maju.

Iklan

REORIENTASI TRADISI KEILMUAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM PERSPEKTIF HADHARAH AL-‘ILM

Di dunia barat telah mengklasifikasikan ilmu kedalam tiga bagian yaitu; ilmu social (social science), ilmu alam (natural science), dan ilmu humaniora. Dimana pendidikan masuk dalam kategori ilmu social sedangkan ilmu agama dalam kategori ilmu humaniora. Posisi agama sebagai ilmu humaniora mereduksi peran wahyu. Dalam tradisi keilmuan muslim dikenal dalil aqli dan dalil naqli, dan kemudian ditransformasi kedalam klasifikasi ilmu. Dalil aqli yang berasal dari penalaran dijadikan sebagai ilmu rasional, diantaranya ilmu alam, ilmu social dan ilmu humaniora. Sedangkan ilmu agama dalam posisi tersendiri yang kemudian masuk dalam bidang dalil naqli.

Dalam pemikiran ini, ilmu rasional dan wahyu harus berjalan seimbang agar dapat membentuk peradaban ilmu (hadharah al’ilm). Sehingga dengan metode seperti ini dapat mengurangi pola piker teologis-normatif dan deduktif-legalistik serta epistemology ilmu yang dikotomik dan juga memelahnya rekonseptualisasi keilmuan pendidikan berdasarkan riset.

Tradisi keilmuan muslim yang cenderung stagnan sehingga kadang dianggap tidak dapat menjawab tuntunan zaman, apalagi memberi sumbangan terhadap peradaban ummat manusia yang demokratis, humanis dan egaliter. Tradisi keilmuan yang tidak responsif didukung oleh dua pola piker yaitu teologis-normatif dan deduktif-legalistik. Teologis-normatif menempatkan tuhan diluar dari dunia realitas sehingga konsep keadilan terlaksana di dunia akhirat bukan di alam realitas. Keadilan tidak teraktualisasikan dalam kehidupan social. Sehingga timbul pemikiran bahwa pahala dan dosa di akhirat saja sedangkan akibat perbuatan dalam dunia realitas merupakan hukum alam.

Pola pikir deduktif-legalistik menganggap bahwa al-qur’an, hadist, hasil ijtihad ulama terdahulu bersifat baku atau mutlak. Pola pikir seperti ini pada akhirnya menimbulkan berpikir text-book oriented, ulama-oriented. Bila dihadapkan suatu problematika dengan segera kembali ke rujukan buku standar. Semisalnya hasil buku kompilasi empat imam mazhab, dianggap telah mampu menyelesaikan setiap persoalan, walaupun pada saat itu sosiokulturalnya berbeda dengan masa kini tetap dianggap sebagai solusi. Timbullah anggapan bahwa tradisi keilmuan ulama dulu telah mapan dan akan selalu relevan sampai kapanpun. Sehingga pola pikir seperti ini dapat menimbulkan sikap apologis dan membekukan tradisi keilmuan muslim. Ini dapat dilihat dengan semakin menguatnya orientasi fiqih dalam menyelesaikan persoalan halal-haram, sah-batal, islam-kafir dan sesat atau tidak sesaknya keyakinan orang. Sehingga mengakibatkan perpecahan dan menipisnya ukhuwah islamiyah.

Pola pikir deduktif merupakan metode penalaran dari hal yang besifat umum kemudian ditarik kepada hal-hal yang bersifat khusus. Pola pikir deduktif masih memiliki kelemahan terhadap penarikan kesimpulan, jika materi yang disajikan keliru maka penarikan konklusi akan salah. Sedangkan pola pikir induktif bermula dari obesrvai, dari observasi inilah hipotesis di buat dan kemudian di uji. Kesimpulan di buat setelah melalui prose konfirmasi. Kesimpulan bisa dijadikan hasil observasi tambahan yang kemudian membentuk siklus berikutnya dari metode induktif sampai semuanya terjawab.

Dari paduan dua pola pikir diatasa dalam bentuk analisi kritis dan berpikir reflektif , yang dikenal ulama terdahulu ijtihad.

Mengulas tulisan Prof. Dr.Abd.Rachman Assegaf

Longhorn Beetles for Ink  addition feature of Money paper

Peneliti Zhongze Gu dkk menemukan pemanfaatan Kumbang Longhorn sebagai fitur tambahan pada uang kertas agar dapat mengurangi tindakan penipuan. Kumbang ini menghasilkan warna yang sangat bagus dapat berubah berdasarkan kelembaban. Kumbang tahan terhadap pemutihan bahkan dapat kembali ke warna semula setelah terjadi perubahan. Namun fitur ini berdasar terhadap perubahan struktur kimia, pewarna, pigmen atau kecenderungan polimer menghilang ketika terkena udara dan cahaya. Peneliti telah mengembangkan perangkat material perubah warna yang disebut Colloidal photonic crystal.

Metoda yang digunakan memang sangat mahal namun ada alternatif menggunakan printing injeksi yang cepat, tepat dan biaya murah, hingga kini para peneliti mengembangkan tinta yang baik untuk membuat beberapa perubah warna dan pola yang kompleks. Salah satu tim peneliti Gu kembali menggunakan Tmesisternus isabellae, sebuah kumbang Longhorn yang bisa berubah dari emas menjadi merah dan kembali lagi, tergantung kelembaban.

http://phys.org/news/2014-11-longhorn-beetle-ink-counterfeiting.html#jCp

Love Rain

Setiap kali awal musim hujan datang, tidak jarang saya melihat Film romantis korea selatan (Love Rain), mungkin karena watak pemeran utama yang calm dan terkesan pintar, disisi lain film ini menceritakan sebuah pengorbanan yang berdampingan dengan kehormatan rasa. Film ini berdurasi sekitar 1 jam setiap episode dari 20 episode. Namun hanya 4 episode yang sangat menarik buat saya, mungkin karena latarbelakang tempat, berpakaian zaman dahulu serta nasionalisme yang disisipkan disela kisahnya.

Sun In Ha dan Kim Yoon Hee sebagai tokoh utama dalam film ini, mengutarakan peran yang sangat pendiam. Keduanya kuliah di satu universitas yang sama namun di studi yang berbeda. Meskipun Yoon Hee sangat cantik dan dianggap primodana dalam kelasnya, dia tetap selalu sendiri bahkan sejumlah lelaki ditolaknya, apalagi yang hanya melihat kecantikan. Terlihat bahwa dia hanya fokus pada dunia akademiknya namun bukan berarti tidak punya belas kasih. Salah satunya, ketika Yoon Hee di tempat Penantian Bus, dia melihat tangan Dong Wook yang terluka, tiada lain teman In Ha. Seketika menawarkan pembalut luka bahkan menawarkan diri untuk membalutnya, padahal saat itu dia belum mengenal Dong Wook. Kemudian pada tempat yang sama dan waktu yang berbeda, mereka bertemu lagi dan Dong Wook menyapa Yoon Hee yang melihat poster film. Dia tidak terlalu mempedulikan, bahkan Dong Wook memperlihatkan jari yang pernah dibalutnya tapi Yoon Hee sudah lupa. Hal ini memberi pesan bahwa “Yoon Hee ketika menolong fokus pada objeknya, bukan pada siapa orang yang harus ditolong”. Berbeda dengan peristiwa kebanyakan orang, dimana dia akan membantu dengan alasan berbalas, apakah karena suka, ada kemauan dan atau takut.

Sebelumnya, Yoon Hee sudah masuk dalam pandangan In Ha kemudian dituangkan melalui lukisannya. In Ha mulai menemukan cinta dalam 3 detik nya, bahasa kerennya: idealisme cinta yang telah dianut. Sejak saat itu In Ha mengarungi kehidupan Yoon Hee, melalui buku harian yang tidak sengaja di temukan ketika berpapasan. Awal kisah keduanya selalu dengan buku yang terjatuh karena tabrakan badan. Buku yang menjadi simbol kepandaian Yoon Hee.

Hujan, kata atau disini kisah keduanya yang paling berkesan. In Ha mendapati Yoon Hee menanti hujan redah, Dia kemudian mencari pinjaman payung yang didapati melalui gudang perpustakaan. Mereka berjalan dalam kondisi payung yang rusak, karena keduanya memiliki pribadi yang pendiam, hanya secuil kata yang dari mulut mereka, termasuk makna hujan.
love-rain-3

“Ketika melihat hujan, aku menjadi sedih dan bahagia, hujan memiliki dua wajah: kebahagian dan kesedihan”
Dalam hati:
“Aku rasa cinta dan hujan memiliki kemiripan “

Kisah demi kisah tiba pada klimaksnya, dimana Dong Wook juga menyukai Yoon Hee. Hal yang menarik bahwa In Ha dengan kematangan jati dirinya mengorbankan diri setelah mengetahui sahabatnya memiliki rasa yang sama. Namun itulah rasa, mereka punya senyawa yang lebih kuat dari kata.
“Cinta berarti tidak pernah berkata maaf . Cinta datangnya dari hati, karena datangnya dari hati, kau tidak perlu mengucapkannya”
Miane yo..

Sejak saat itu Yoon Hee menyimpan rasa pada In Ha, karena beranggapan memiliki pandangan yang sama dengannya meskipun ungkapan itu muncul melalui buku harian. Kebiasaan akademis Yoon Hee menuntun perasaannya terhadap hal yang tidak biasa, menyukai seseorang berpandangan hidup bagus dan berkepribadian.

Melanjutkan pada puncak klimaksnya ketika teman-teman In Ha mendapati lukisan wajah Yoon He di lemari In Ha. Terlebih dalulu, Mereka mengetahui komitmen In Ha bahwa ia akan melukis wajah seorang wanita, hanya untuk wanita yang diinginkan jadi pasangan atau istrinya. Cemburu Dong Wook tidak dapat digambarkan lagi menjadi api, tapi cintalah yang menunjukkan jalannya. Apa dikata, semua ada batasnya bahkan pengorbanan untuk perasaan. In Ha dan Yoon Hee sesaat bersatu namun terpisah dalam keadaan yang berbeda. In Ha harus mengikuti wajib militer dan Yoon Hee berjuang melawan penyakitnya di Amerika. Hanya kenangan yang tersisah dan satu surat dari Yoon Hee tanpa kata “maaf” karena cinta berarti tidak pernah berkata maaf.

Cerita terus berlanjut hingga episode terakhir, berlanjut pada kisah kedua anak mereka dan pertemuan setelah sekian tahun. Meskipun tidak disatukan dalam ikatan keluarga namun cinta yang murni tidak akan pudar oleh waktu, selalu ada jalan untuk pertemuan mereka. Jodoh belum tentu dalam ikatan hukum, namun dia ada diluar batas fisik.
Love Rain