Kemungkinan Perang Dunia III adalah akhir Zaman

Pencapaian manusia pada teknologi quark telah menembus dinding baja terkuat yang realitasnya berasal dari quark itu sendiri. Jika dirunut berdasarkan size, manusia telah menuntun perabadan dari zaman makro, mikro, nano dan sekarang menuju piko, berakhir pada quark. Namun Zaman piko menujukkan pencapaian empirik yang sangat sulit, mengisyaratkan bahwa entitas ini telah mendekati pencapaian kekosongan namun berenergi, quark. Quark adalah adalah penanda akhir zaman, atau dapat disebut sebagai zaman berkekuatan Tuhan. Dahsyatnya zaman quark lebih dahsyat dari fakta bom atom perang dunia kedua. Ilustrasi inti atom yang berukuran kecil -10 pangkat 15 meter dapat meniadakan hiroshima dan nagazaki adalah otentiikasi kekuatan atom. Fakta mutakhir menunjukkan bahwa ada kekuatan yang lebih dahsyat dari kekuatan atom. Kekuatan yang mungkin mengakhiri zaman.

Dalam spritualitas, Mulla Sadra membahas secara mendalam mengenai ketiadaan dan keberadaan, konstruksi berpikir dengan perdebatan yang rumit nan panjang serta telah melewati berbagai peradaban. Sejak masa Yunani, kemudian Socrates dan kedua muridnya; Plato dengan iluministiknya dan Aristoteles dengan parpatetiknya, berlanjut pada zaman abad pertengahan dari filsuf muslim Al Farabi, Ibnu sina, Nashirudin At Thusi, berakhir pada sintesis filsafat Hikmah Mulla Sadra. Jika realitas Tuhan dapat dicapai oleh akal maka dia bukan Tuhan karena Tuhan tidak mampu dicapai oleh pikiran kecuali melalui perumpamaan-perumpamaan. Dalam buku Perjalanan Pulang ke Tuhan menyebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Aku tidak bisa memujiMu sebagaimana aku memuji diriMu”. Menunjukkan bahwa realitas tuhan tidak mampu dicapai oleh akal dan fisik yang terbatas ini sedangkan Tuhan adalah realitas yang tidak terbatas.

Keterkaitan dengan teknologi quark adalah dimensi yang tidak tercapai oleh manusia namun dapat merasakan dan menggunakan kekuatan yang super dahsyat. Begitupun Tuhan adalah realitas yang dapat kita yakini melalui perumpamaan namun tidak dapat dicapai dengan wujud yang terbatas. Kemudian dalam dua sisi disini menunjukkan satu asal mula yang sama, bukan dua kutub yang berbeda atau tesis dan antitesis. Kalangan empirik menggunakan metode bottom up sedangkan kalangan spritual dengan metode top down. Dua metode yang ditemui dalam sistem nanoteknologi namun juga tepat dalam ilustrasi diatas. Saintis dengan paham empirisme dan positivisme sedang menggali dunia hingga berakhir pada ketiadaan namun ada sedangkan Kaum spritual seperti sufi dan filosof meniadakan diri untuk menemukan suatu keberadaaan. Semestinya, keduanya akan merasakan bahwa semua ini adalah bayangan, bahkan dirinya adalah bayangan, hanya satu yang benar-benar maujud dan tidak terbatas.

Pada akhirnya, keduanya akan menemukan kekuatan besar dari Tuhan yang termanifestasi dalam ketiadaan dunia. Dunia akan hancur dari turunan sebab atas penemuan kekuatan Tuhan. Pintu ketiadaan itu sudah ditemukan, satu demi satu dalam gelombang besar manusia menghilang, Paris, palestina, suriah adalah bagian dari kekuatan Tuhan. Kaum awam akan menyebutnya sebagai kekuatan jahat, namun tidak menuju pada Tuhan. Kekuatan yang di ibaratkan dalam teknologi nuklir, bernilai baik ketika sebagai pembangkit listrik namun buruk pada pemboman. Ini hanyalah turunan sebab, sebab yang telah dipegang kendali oleh manusia. Kemungkinan zaman ini akan berakhir dengan perang saat ini. Manusia bertanggung jawab atas kendali ini. Allah Azza wa jalla

Iklan

Pasrah

Sekali lagi firasat membuktikan, kekhawatiran menjadi musuh tersulit. Kita berasal dari satu, yang terhubung dengan berbagai abstraksi. Berupaya menghalangi namun menjadi berat dan semakin jauh, hanya kepasrahan yang menjadi jalan. Kata sudah ditutup rapat, tak ada pencarian, tak ada kerinduan, tak ada pertanyaan. Kekhawatiran akan hanya menjadi boomerang yang telah menyerang balik, kesalahan kecil cukup menjadi alasan besar. Usia menjadi alasan yang membingungkan, mungkin kebodohan dalam memposisikan atau pengalaman yang tak perlu tersampaikan.

#Hafidz #Ma’had, dua kata tetiba menyayat meski tak ada pisau. Pencarian dan pertanyaan hanya akan semakin menggores. Tak ada yang bisa dilakukan selain berbicara pada media yang mungkin tidak tersampaikan ini. Manusiawi, alasan yang sangat lumrah namun sekali lagi tak terbantahkan.

Namun apa daya, Diri ini berasal dari batang kebodohan yang terus belajar namun kebodohan ini belum jua tergerus. Hafidz, penghafal, mungkin malaikat yang menjadi idaman dalam pikiran wanita yang mudah menjanjikan surga, semoga tidak melangkahi hak Tuhan.

Karenanya, telah berjuang melawan diri, bertanya dalam rabaan pengalaman. Mengapa mesti dia? mencoba menyimpulkan alasan, harapan akan salah satu jalan mencapai Dia. Alasan! Apa benar? itu hanya membangun alasan karena rasa suka? sebuah pergolakan dalam diri.

Namun Satu pengalaman terakhir yang pasti! Berbagai pengalaman dalam konsistensi pemahaman al quran, etika, terlebih ketika bertemu dengan wanita, terdapat pengendalian ketika mengingatnya. Lagi, perjalanan rasa yang tak biasa, dahulu, jarak akan meninggalkan rasa, tapi ini tidak! Lagi, dahulu seringkali melangkahi panggilan Tuhan karena seorang namun kali ini merasa lebih dekat denganNya. Semoga alasan ini cukup.

Kini sedang berpikir menggantungkannya pada Tuhan, mungkin diri ini bukan bagian dari rangkaian sebab menujunya meskipun ada harapan kuat yang tertanam.

Mengingat Tuhan dalam setiap nafas, bahkan dalam menyenangi makhluknya. Meski sendiri tanpa ada teman pengingat, semoga Tuhan berkenan Langsung. Syukur dan sabar adalah 3 tingkat terakhir menuju Nya. Meskipun ada satu Tingkatan pertama yang sering terlewatkan namun selalu kembali untuk memulai.

Kuatkanlah.

Tuhan, saya sangat menyukainya. Jika dia satu diantara jalan terbaikMu. Aku pasrahkan jalannya. Maafkan atas ketidaksabaranku. Maafkan atas upaya perlindunganku yang kecil, jauh atas kebesaran perlindunganMu.

Tuhan, jika aku harus meninggalkan segalanya demiMu, tuntunlah…