SayangNya Tuhan

Tuhan sangat menyayangi, Jika sejenak menoleh kebelakang, begitu panjang jejak-jejak langkah bahkan sebagian lagi sudah tak nampak. Kesedihan dan kebahagian seakan dibatasi garis yang lebih tipis dari benang. Keduanya berlari estafet di dua ruang yang berbeda namun berirama mengikuti satu nada riuk disisi yang hening. Sekali berbagi, mengembalikan sentuhan hitam di titik tengah, membangunkan dari drama mimpi yang sulit dibedakan dengan ilusi.

Kini, berada di pertigaan jalan, di belakang terdengar teriakan harapan yang sesaat redam dengan riuhnya angin namun kembali lagi berdesir lebih besar. Jalan sisi kiri berbisik tentang sebuah kasih yang terlihat murni namun terefleksi samar, seringkali mata menatap tajam meraba tentang sebuah kepastian, mencari kunci untuk ruang yang tak berpintu. Mungkin sebuah pengharapan khayal yang entah akan menjadi kisah atau tetap khayal tak berwujud. Jalan sisi kanan, berserakan gambar yang sudah terlukis dalam imajinasi, tersusun rapi dalam pena tanpa tinta. Semakin terlihat jelas, seakan bergerak tak beraturan menjadi puzzle yang menginginkan waktu dan perjuangan.

Mulai berjalan menepi, menghindar dari keramaian yang menginjak-nginjak kaki yang lemah, merebahkan tubuh yang rapuh layaknya dunia yang semakin tunduk dengan keadidayaan pengetahuan manusia. Rasanya ingin mengumpulkan dedaunan dari seluruh penjuru dunia, mendengar keluh kesah yang selama ini membisu. Pudar bersama musim namun setia untuk kembali. Begitu cepat menua, kuning dan jatuh namun hidupnya hanya memberi nafas dalam diam dan menghilang, terus berulang.

Makna yang bertahun-tahun terangkai, tidur dalam hiruk pikuk dan eksplorasi nafsu yang berlebihan. Semua berjalan ibarat robot yang patuh pada kegoisan atas modernitas yang akan menghapus kesetian daun. Simbol-simbol telah mewarnai setiap sudut jalan demi sebuah pengakuan. Ingin terlihat dunia oleh bahwa aku adalah……. bagaimanapun itu palsu. Setiap manusia menyenangi air yang jernih nan tenang, terlihat hingga ke dasar dan menenangkan jiwa.

Namun Tuhan masih menyayangi, ditepian jalan masih ada jajaran pohon ramah bersama sungai, Ibu dan Bapak bermain bersama anaknya di pekarangan hijau yang luas, ayam dan sapi saling menghargai atas perbedaan. Meskipun, itu hanya disekian hektar daratan. Namun masih ada harapan dan kenangan, setidaknya Tuhan masih menjaga jalan melalui kesulitan demi kesulitan hidup atas kematerian duniawi, atas keserakahan diri, atas bertahtanya nafsu terhadap jiwa. Sungguh perjalanan fisik bersama jiwa menyisakan rasa yang saling menekan, kemenangan-kemenangan kecil, kepuasan batin dan kebanggaan atas cinta.

Kenangan, setelahnya, merangkai harapan demi harapan tanpa menanggalkan syukur atas nafas yang saling menyambung hingga detik ini. Harapan untuk kemenangan diri atas diri, Harapan atas cinta untuk cinta, harapan untuk keberadaan atas ketiadaan, untuk kaki pada setiap sisi dunia, menyatukan 3 tujuan dalam 1 jalan. Harapan untuk kemudahan atas perjalanan, pengetahuan dan cinta.

Tuhan tetaplah menyayangi…..

Tenggelamkan Aku dalam Keakuanku

Hai Aku….

Ingatkan aku pada kematian
Sadarkan aku pada ketiadaan
Leburkan aku dalam kesatuan

Adakah hitungan waktu yang lebih cepat dari detik
adakah yang lebih abstrak dari bayangan
Adakah rasa yang melebihi intuisi

Jika yang terdekat denganku adalah diriku
Biarkan aku menikmati kesepian
Kesepian diantara gelap dan cahaya

Bagiku sudah tak ada pemisah
Menjauh dari imajinasiku
Pencapaian tersulit di kedalaman intuisiku

Namun teguhkan aku pada jalan kematian
Jika kematian adalah kesempurnaan hidup
Tuntun setiap ikatan dalam tubuhku

Kuatkan hingga penguat tak nampak
Sempurnakan nilai dalam setiap sentuhanku
Tajamkan penglihatanku menembus drama bayangan

Labuhkan aku pada mahkluk pilihanMu.
Lemahkan nafsuku dalam kekuatanMu.
Engkau….

Perfection by Self Control

Self Control, How to manage ourself to be perfect one, perfect human being without any assessment of others human. It fade away in the view and disappear from measurement who have extent dedication although no one realize that because world is transitory stage in which do not gain any endoressment. No body is perfect, I do not truly agree about that because the word might be achieved by the world, we can not assess Allah with that word because it is higher than we can think.

Complicated life felt human is existance unconscious, they stay along inside the box without get out to see overall box so that little bit unobstrutived one impinge everything. Eventually, bustling is inedequate for complying the life caused no void in our spans. We need peacefull in our daily to elevate our awareness and trigger our egoism extinction. Definitely, it need long effort to keep consistence, need supporting environment but more important thing that true religion unlike general comprehension.

Understanding precaution is originated right premise which necessitate to unearth vast insight portraging sistematically to overcame each issues. Every second is usefull to exercise till being customary action. Once more, Our side is important choice to support our grown so that we deserve to select our best partner and situation. People who can retain in best consistance will not be susceptible to being bothered outside their own commitment.

Ultimately, Our certain way resemble stream flowing to encounter some stones, trees, leaves, woods, being adaptable, and then influence, divert, designate, and vary without destroy it. Simple life as has been mentioned is noteworthy life, hence, we can lessen self disorders due to social disorders. Everything is diffuse likely thread which is slightly to break.

To conclude, temporary life needs to settle in precise line without perceive our existance. Imperfection only for one who can not resist theirselves to face everything that they meet. Who can get it will be tremendous one without any comparison. May Allah endow our thought to the right thought.