Ingin kecil dalam tabuh yang mendewasa

Elok, murni dan selalu berbalut kejujuran. Jiwa bertangkup dengan waktu, ada yang terpaku, gial dan beriringan. Jiwa seyogyanya memancar dari titik pusat kesadaran, menyikapi matahari dalam pusat tata surya. Paradoks dengan hati, menunduk, bersembunyi namun berkuasa atas jiwa. Jalan semestinya.

Mengenal, berjibaku dengan keriangan, masa itulah yang paling berharga. Kecil, mengekspresikan cinta dengan kejujuran, mengappresiasi cipta dalam ketulusan. Kini, Kedewasaan dunia semakin absurd dengan kepalsuan, tersingkir atas ego yang melebihi hakikatnya. Masa itu, sungguh tidak tersentuh keserakahan, tidak menjelma berbagai rupa watak, murni tidak terjamah akan eksotisme mimpi. Layaknya Egoisme terbelala dengan pesona Eiffel, tertidur diatas keindahan sakura, Meringis atas ketinggian Liberty.

Menyingkirkan masa keemasan jiwa, kembali kecil dalam tubuh yang mendewasa seakan hinaan atas sikap yang tak beranjak, padahal, disana ada kemurnian di masa yang kecil. Dewasa seakan penuh pengetahuan, meremehkan setiap jiwa yang senantiasa tenggelam kejernihan, melihat segalanya dalam pandanngan setitik.

Onggokan tubuh dan jiwa layak untuk beranjak, namun kembalilah sesekali agar hati yang kecil tidak kesepian, agar kejujuran tidak menjadi antik, agar kemurnian tidak ternodai atas buasnya dunia.