Berbagilah

Tujuan hidup manusia adalah berbagi, atau bahasa tingginya adalah mengabdi. Baik secara horizontal ataupun vertikal. Berbagi tidak harus berbicara, tidak harus terkenal, tidak harus berada diantara tangan ke tangan. Bahkan berbagi tanpa diketahui oleh seisi dunia adalah bentuk penekanan terhadap egoisme, keutuhan atas penyerahan diri pada Tuhan.

Jalan berbagi sangat luas, bahkan dalam berbagai diferensiasi atas dimensi pengetahuan. Manusia dapat melalui dengan ilmu tafsir kitab suci, sosial, sains atau skill umum. Selama ilmu itu menuai manfaat baik kepada manusia, maka itu termasuk ilmu agama. Jika ilmu agama diartikan sebagai ilmu yang ditujukan kepada Tuhan dan ciptaannya maka Ilmu sains yang bermanfaat atas identifikasi bentuk kejahatan, makanan, dan teknologi penunjang kehidupan manusia, maka kimia termasuk ilmu agama. Manusia dan dunia adalah jalan menujuNya. Saat ini, ilmu agama disempitkan oleh sebagian kalangan manusia, seakan-akan ilmu agama hanya bergerak pada lingkaran hafalan ayat, hadist, tajwid, bahasa arab atau lingkaran normatif lainnya, padahal jauh lebih luas dari itu.

Jadi pada dasarnya, manusia belajar, bertujuan untuk berbagi, mencari harta benda untuk berbagi. Namun terkadang manusia lengah atas ketidaktahuan dan hawa nafsu. Manusia diobok-obok oleh kesenangan dunia, diayun-ayun oleh mimpi yang sekedar pemuasan lahiriah. Terlebih hanya publishitas pencapaian semata.

Berbagi ibarat aliran air yang tenang, dia terus mengikuti takdirnya, menjadi perantara kehidupan atas pepohonan, hewan dan manusia. Bahkan dengan berbagai kerusakan ekosistem, dia terus mengalir membawa sampah dari manusia. Namun berhati-hatilah dengan aliran yang deras, bukan sekedar sampah dari manusia namun juga manusia sampah, merusak segala yang sekitar, meninggalkan segala yang pernah bersamanya, bahkan meninggalkan kesan buruk terhadap aliran itu.

Sejalan dengan mimpi, manusia yang terlalu berlebihan mengejar mimpi pemuasan diri, akan menuangkan nafsu, menjadikan penghalang atas segala yang ada disekitarnya. Maka dari itu, bermimpilah ibarat aliran air yang tenang, karena mengalir bagai air adalah bentuk usaha dan penyerahan diri atas ketetapan Tuhan. Berbeda dengan Manusia yang hanya pasrah tanpa usaha, ibarat air dalam bak yang tak terguna, lama-lama berlumut dan terbuang. Jadi Mengalir adalah letak usaha air, bahkan dalam setiap alirannya bisa jadi bermakna terhadap kehidupan sekitarnya.

Dalam keadaan bersih, Aliran air yang tenang akan kelihatan jernih dibandingkan aliran air yang deras. Aliran air yang tenang memberikan kesejukan pada jiwa, memberikan manfaat pada tubuh dan bentuk kedamaian antara manusia dan alam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s