Sejarah sebagai Panutan yang Kritis

Perlakuan sama atas dua zaman yang berbeda seringkali menjadi problematika sosial, pemicu munculnya kelompok-kelompok radikal, intelek yang normatif, berujung pada pengetahuan yang luas namun dangkal. Pengetahuan yang benar akan selalu melahirkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang seringkali diposisikan sebagai puncak pengetahuan.

Menelah kisah para pembelajar barat dan islam dalam catatan sejarah seringkali dibandingkan melalui keluasan pengetahuan. Ada perbedaan esensi yang sangat signifikan, ketika dunia barat seringkali diperkenalkan ilmuwan-ilmuwan yang menjadi ahli di satu bidang pengetahuan. Misalnya, Einsten dalam bidang fisika, Bohr dalam bidang kimia, Darwin dalam bidang biologi, Freud dalam bidang psikologi dan Marx di bidang filsafat. Mereka tercata dalam sejarah, telah menguasai bidang tertentu namun berdampak besar terhadap perkembangan pengetahuan setelahnya. Mereka tidak tercatat sebagai islam namun memberikan manfaat pada manusia, termasuk islam.

Berbeda dengan sejarah islam seperti Ibnu Tanmiyah, Ibnu Sina, Nashiruddin At Thusi, Muhammad Al Fatih dan sekian banyak di era yang berbeda. Mereka tercatat menguasai lebih dari satu bidang ilmu pengetahuan, misalnya filsafat, matematika, astronomi, fisika, dan lebih penting tentang hafalan al quran. Ilmuwan yang hebat pada zamannya, ketika manusia masih berputar pada perebutan kekuasaan dan peperangan. Mereka telah meraba dunia, merenungi kejadian-kejadian alam, bertaut dengan keyakinan tentang pencipta, mereka diketahui sebagai islam, bukan pengakuan dari dirinya, tidak seperti yang dilakukan para penjual agama saat ini, namun mereka diketahui dari pengakuan manusia saat itu dan setelahnya.

Kemudian, siapa yang lebih hebat diantara mereka? Itu hanya pertanyaan bodoh. Kaum barat yang radikal akan menghilangkan jejak pengetahuan muslim dalam perkembangannya. Kaum agamis yang fanatik mengagumkan perannya dengan wujud yang parsial. Einsten dalam kedalaman relativitasnya bahkan mengakui kemustahilan atas ketiadaan zat pencipta. Namun itu bukan ukuran dalam menilai setiap manusia. Yang menjadi titik fokus adalah ketika manusia membandingkan satu diantara ilmuan dengan ilmuan lainnya secara fanatik, sedangkan pengetahuan sendiri tidak mampu diukur. Bukan tentang ilmuan muslim atau barat yang lebih hebat. Namun bagaimana mensintesis setiap pengetahuan , sebagaimana hakikat manusia yang diciptakan secara kuantitatif.

Einsten yang menghabiskan hidupnya dalam ilmu fisika tidak dapat dibandingkan dengan Ibnu Sina yang jauh di zamannya menguasai kedokteran, filsafat, agama. Manusia belum tentu tahu seberapa dalam ilmu kedokteran pada saat itu, matematika, atau filsafat. Kemungkinan, matematika saat itu masih berputar pada algoritma, kemudian digeneralkan bahwa ilmuwan itu sebagai penguasa matematika. Kemudian Einsten yang hanya berkutat pada fisika, namun bercabang dalam berbagai spesifikasi fisika. Perumpamaan ini menunjukkan perbandingan pengetahuan tentang esensi area pengetahuan yang tidak layak dilakukan oleh pembelajar bijak. Hal ini patut dikritisi dalam proses meniru. Keduanya memberikan khazanah yang sama dengan jalan yang berbeda.

Dalam ragam satu agama islam juga melahirkan berbagai isu yang pada prinsipnya sama. Isu yang sangat sensitif adalah kitab suci. Setiap agama memiliki pedoman hidup, baik yang berasal dari rumusan rasio manusia, ataupun yang notabenenya berasal dari Sang Pencipta, yang kemudian diolah dalam pikiran manusia. Pikiran yang seringkali berperan penting dalam sebuah pemahaman, baik parsial maupun universal yang seringkali menyebabkan multitafsir sehingga sejarah pemikiran merupakan komponen utama dalam sebuah keyakinan.

Manusia sekali lagi tidak layak, menilai sebuah keyakinan, tidak layak menjadi Tuhan yang menjastifikasi surga dan neraka untuk sesama manusia. Banyak manusia yang bahkan tidak mengharapkan surga namun diletakkan disisi Tuhan. Dalam sejarah, Seseorang yang memberikan makan anjing kelaparan saja dijanjikan dalam surgaNya. Jadi hafidz, sosialis, saintis, psikologis, politis layak dengan surga. Tidak ada ketetapan bahwa penghuni surga hanya hafidz. Bahkan manusia yang tidak memimpikan surga bisa jadi manusia yang dirindukan surga. Sosialis dengan pengorbanan dirinya dalam memanusiakan manusia, saintis dengan pengorbanan dalam penemuan teknologi yang memudahkan aktivitas manusia, psikologis yang mengedukasi etika sosial dan peningkatan kesadaran, para pendakwah yang seringkali mengingatkan manusia ke jalan Tuhan. Mereka semuanya layak, jadi bergerak dalam satu ilmu saja dapat menjadi pertimbangan disisi Tuhan.

Dunia dan manusia adalah perantara jalan menuju Tuhan, Jadi seyogyanya, manusia tidak layak mempersempit jalan menuju Tuhan.

#Medan-Padang-Jakarta-Yogya 19,20,21 Maret 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s