Please Don’t be Loser

Seminggu dapat lapisan masalah, tidak berani mengatakan ujian karena ujian hanya untuk orang-orang yang beriman.
Kelanjutan pendidikan, persoalan rasa yang manusiawi dan ekonomi keluarga yang dipercayakan dalam pundak yang lemah ini.Tidak butuh selang waktu yang lama, semuanya lebih hebat dari umpan estafet.

Sempat tersungkur setelah gagal melewati satu proses yang harusnya bisa dilewati namun terhalang atas satu kelalaian dan tipu daya. Pandanganku kabur meski tak ada asap, kaki seakan penuh rantai dan satu tempat melambai penuh kekecawaan. Menabahkan diri dan perlahan Tuhan membukakan jalan-jalannya, tidak harus kembali awal namun hanya buntuh mundur lebih sedikit. Beralaskan keyakinan dan harus berjubah dengan semangat karena waktu bisa menjelma menjadi musuh.

Umpan dilanjutkan pada seseorang yang aku puja dan selalu menari dalam khayalku, mempertegas perasaan yang semestinya sudah jelas, namun tertipu pada penalaranku sendiri. Tiga alasan yang menggerakkan langkahku untuk kembali tidak pasti, Mimpi tentang ayahnya, tanda dalam media sosialnya, dan peristiwa kegagalan yang kiraku berkaitan dengannya. Apakah itu tanda atau sekedar bunga, yang pasti saya telah menemukan obatnya dengan melepaskan.

Estafet berlanjut pada kebutuhan ibu dan saudaraku yang seakan berkiblat padaku, cukup berselang 1 jam melepaskannya, ring hp memberikan teriakan pedih. Tidak mampu melukiskan banyak selain menanti hikmah dibalik keresahan. Jika tidak ada seseorang sebagai tempat untuk berbagi, semoga Tuhan selalu bersama langkahku.

Menyerah hanya akan menyudutkan diriku sebagai pecundang. Menjaga aliran adalah pilihan terbaik. Mimpi menyelamatkan kepedihan tenaga kerja indonesia, mendidik anak-anak di pelosok negeriku dan membasuh tangisan kemanusiaan di palestina dan suriah. Jika saya menyerah pada 3 hal kecil diatas, bagaimana bisa membuat hal yang lebih besar.

Boleh jatuh tapi harus kembali bangun
Jiwa harus lebih besar dari tubuhku, niat harus lebih kuat dari tindakanku.

Bismillah

Iklan

Hampa

Meninggalkan Jogja dengan perasaan hampa
Entah separuh jiwa atau harapan yang telah terkikis rapih
Mengalir namun seakan ada sisi aliran ini yang meluluh lantahkan
Kembali menjadi nol, mungkin begitulah kesementaraan jiwa ini
Namun disisi lain hati ini seakan sulit menerima
Melewati perjalanan panjang menuju egoisme pendidikan
dan harus mundur dalam keadaan tidak nyaman.

Setidaknya, terimakasih UK

Ketakutan terhadap harapan orang-orang yang berharap
hanya itu, untuk diriku bahkan jika harus mati dalam ketiadaan, Aku rela..
Namun jika mereka, karenaku, harapannya menjadi pupus dan menjelma menjadi kekecewaan
Disinilah penyesalan dalam kematianku

Runtuh, benar-benar ini penyesalan dalam kesalahan,
menempuh jalan diluar idealisme, sejatinya pendidikan bertujuan untuk berbagi
Namun kali ini, kalah dalam melawan diri, benar-benar kalah

Rela memulai dari nol, namun sudah sangat takut memberi harapan.
Ibu, saudari-saudariku, bahkan kamu yang aku puja, ibumu yang menjadi lingkaran perhatianku.
Maafkan aku..