Ibu bukan kandung

Jpeg

Saya awali menceritakan Indonesia di tepian malaysia. Mulai dari orang-orang terdekat dan pertama-tama ketika tiba di Kuala Lumpur. Ibu bukan kandung dan tidak sengaja, bisa dibilang seperti itu, bermula ketika mencari tempat makan indonesia dan mencari flat yang lebih murah karena pada saat itu tinggal di apartment yang sepertinya bukan untuk kalangan orang yang tidak berada seperti saya. Apalagi keinginan yang kuat untuk mengenal kehidupan para pekerja Indonesia di Malaysia. Sekitar 1 km dari tempat sebelumnya, sejajaran kedai makananan, satu diantaranya ada makanan Indonesia dan beruntungnya dimiliki oleh orang Indonesia, maksudnya, kedai atau semacam ruko ini disewa langsung dan memiliki kewenangan sendiri terhadap keuntunngannya.

Satu keberuntungan karena suami dari ibu ini sejak 26 tahun lalu mencari nafkah di Malaysia sehingga sejak beberapa tahun lalu telah memiliki IC merah, semacam identitas orang asing yang hampir diakui sebagai warga negara setempat. Berbeda dengan kawanan kedai lainnnya, dimana pelayan atau sejenisnya ditangani oleh orang Indonesia dan pemiliknya adalah orang melayu atau cina sehingga jelas keuntungan diatur orang mereka. Pertama kali datang disini, saya memanggil beliau dengan “Ibu” dimana panggilan yang cukup asing antara pelanggan atau penjual, umumnya dengan sebutan “kakak” meskipun jauh lebih tua dari kita. Akhirnya ibu yang berasal dari madura ini, memanggil saya dengan “nak”, secara tidak sengaja terbentuklah jalinan rasa kekeluargaan. Sejak saat itu, seringkali dapat potongan harga bahkan secara gratis makan di tempat ini.

Seperti layaknya seoranng Ibu, ia hanya memiliki tangan namun bercabang untuk kelima anak dan saudaranya di Indonesia. Meskipun lebih beruntung dari TKI lainnya namun kesulitan tidak berhenti disela usahanya. Satu waktu, ketika ibu harus digiring ke kantor polisi karena legalisasi kedainya, dinyatakan tidak memiliki izin jualan sehingga harus membayar sekian ribu ringgit. Yang nyatanya, ibu ini punya surat izin namun penyebab ditangkapnya karena efek kecemburuan dari penjual setempat. Menjadi warga asing adalah resiko yang harus ditanggung namun tidak ada pilihan lain selain mencari nafkah di negeri orang. Belum ketika kekurangan pembeli atau efek persaingan hidangan bahkan diskriminasi pajak warga asing.

Ketika saya tanya tentang, kapan ibu mau kembali ke Indonesia untuk selamanya? Ketika anak saya menyelesaikan kuliahnya, minimal kakak sehingga membantu adik-adiknya. Meskipun penghasilan kecil, tetap akan kembali. Kecintaan Indonesia dan Pengorbanan ibu yang tiada tara…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s