Kematian

Meletakkan kematian 5 cm di depan mata, 50% berada dipikiran dan 100% persen mengisi ruang hati serta menjadi teman terbaik dalam setiap tindakan. Tidak ada obat yang menyembuhkan bagi jiwa dan raga selain kesadaran atas kematian. Menolong sesama manusia sebagai bentuk ketakutan akan ketiadaan yang segera menghampiri dan kita tidak memiliki tawaran kebaikan agar bisa duduk disisiNya.

Jarak 5 cm adalah perumpamaan terbaik untuk kematian, jika benda tepat menempel dimata, manusia akan sulit melihat kematian itu begitupun jika melebihi akan memberikan ruang yang lebih besar sehingga mata masih terlena akan adanya benda lain. Jadi 5 cm adalah posisi atas penglihatan kematian yang terbaik. Dalam maksud, melihat seisi dunia sebagai kekosongan, ketiadaan sebagaimana mata itu sendiri adalah kesimpulan bayangan dan ilusi.

Porsi 50% dalam pikiran adalah bentuk keseimbangan antara dimensi fisik dan spritual. Meskipun keduanya akan berlabuh pada akhir yang sama. Manusia bekerja keras seakan-akan akan hidup begitu lama dan beribadah seakan-akan kematian selangkah di depan raga. Itu pepatah kuno, kita bekerja keras saat ini karena waktu kematian semakin dekat sehingga tidak ada waktu untuk berbagi melalui kerja karena kerja merupakan salah satu jalan untuk berbagi. Jadi keduanya adalah karena kematian sehingga harus bekerja keras dan beribadah, dengan ini, niat dan jiwa menghadapi kehidupan dapat sejalan.

Hati atau jiwa di isi 100% kematian karena dia bagai pusat dari segala tindakan dan pikiran, ketika hati terkontrol dengan utuh maka kesadaran akan kehidupan dunia akan semakin terjaga, penjagaan diri diluar kotak duniawi semakin kuat karena subjek akan selalu diatas esensi objek. Hati yang terpenuhi kesadaran akan berjalan bersama dengan tindakan keseharian.

Refleksi kematian ini berkisah dari meninggalnya seorang ayah dari 2 orang anak yang kira-kira masih berumur 5 dan 10 tahunan. Saat beranjak shalat subuh, mikrofon surau mengabarkan tentang kepergian Ayah yang kemungkinan besar menjadi tulang punggung keluarga. Terlihat anak perempuan pertama menjaga mayat ayahnya yang sudah diletakkan disisi kiri Surau. Masih kelihatan tegar diantara orang-orang yang berdatangan untuk menunaikan shalat subuh. Namun Setelahnya, ketika pembacaan doa untuknya yang disematkan ketika usai shalat, wajah yang tegar memudar bersamaan munculnya air mata, begitupula adik laki-lakinya yang jatuh menangis dipelukan ibunya. Innalillahi wainnailahirajiun.

Yang ada dipikiran ini, Apakah mereka sebagai keluarga TKI? Ataukah apakah ibunya sedang bekerja? Tidak bermaksud merendahkan, pengalaman selama disini membuat mengenal karakter para pekerja indonesia. Yang ada dibayangan ini, Jika dia seorang TKI dan terlebih ilegal maka kematiannya pun mungkin akan dipersulit. Kedua, jika ibunya tidak sedang bekerja, Apa yang akan terjadi dengan kesehariannya dan pendidikan anak-anaknya, bahkan jikapun bekerja apakah cukup? Apalagi jika seorang TKI.

Kematian adalah kado terindah bagi seseorang yang memahami sejak lahir, sehingga hidupnya diisi dengan hal-hal baik. Namun apakah patut disalahkan jika seseorang terlahir dikeluarga yang miskin, tidak berada dalam kecukupan harta dan pengetahuan. Keluarga yang tidak memahami arti kematian, sepanjang hidupnya dipenuhi kesulitan hidup, bahkan ketika mati harus dipersulit. Siapa yang seharusnya bertanggung jawab?

 

#surau (mushollah yang aktivitasnya menyamai mesjid, hanya saja ruangan yang lebih kecil)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s