Festival Perempuan

Festival-festival Kehidupan pasti memiliki awal dan akhir, namun kapan akan berhenti pada sifat-sifat seremonial dan euforia semata yang tanpa ruh…
Belum lagi euforia menganggap yang tidak semestinya menjadi biasa dan selalu perempuan yang menjadi biasa.
Hari ini mengikuti Upacara memperingati Sumpah Pemuda di Lokasi Candi Prambanan. Ada peristiwa tertentu yang tiba-tiba mengetuk hati saya, ketika perempuan-perempuan cantik dalam pandangan subjektivitas menggunakan pakaian yang begitu memukau, berjalan di depan kami mengantar dan menjemput para pejabat yang berdatangan. Setiap lewat di depan kami, saat itu pula para peserta bersorak entah karena kegirangan atau bermaksud apa. Seketika itu ada perasaan miris atau kasihan melihat sisi pekerjaan dan tingkah para mahasiswa Laki -laki yang notebenenya berpendidikan. Dalam fikir, Apakah harus mempekerjakan dan menerima pekerjaan seperti itu? ataukah makna Sumpah Pemuda atau kegiatan sejenisnya memiliki makna parsial atau seputaran teks dan konseptual tanpa menghiraukan nilai-nilai yang lain. Sudah sangat sering kegiatan sejenis dilakukan, parahnya penggeraknya adalah Mahasiswa. Masih banyak bentuk kegiatan yang primary atau second object nya adalah perempuan. Karena sejatinya perempuan memiliki sisi keindahan yang bilamana tidak ditempatkan sebagaimana mestinya maka berimpas pada bidang yang lebih luas, sebut saja moral, harga diri dan arah kehidupan yang caruk maruk. Kemarin baru melihat pengangkatan menteri yang diisi oleh 8 perempuan, bukti bahwa perempuan telah diakui mampu memimpin dan memenajemen ruang yang lebih luas. Bukti keseteraan Gender pada perspektif tertentu. Namun disisi lain, perempuan dijadikan objek tontonan dan kesenangan nafsu.

Merindukan kenakalan

Lagi, Ramadhan bersahabat dengan kerinduan, masa lalu mulai mengusik ingatan, masa kecil penuh kebebasan. Pastinya masa itu tak akan terulang, hanya sisa-sisa ingatan yang tertuang dalam goresanku. Hampir setiap sudut kota aku arungi, hampir semua permainan aku nikmati, berteman dengan banyak perbedaan. Aku tak kenal medan. Lumpur, sawah, selak belukar. Aku tak kenal waktu. Siang , malam, pagi. Aku tak kenal batas. Semua adalah kesenangan, kebahagian yang tak terkira.
Ketika Ramadhan tiba, mesjid penuh gemerlap, malam mengundang tawa, paduan yang serasi. Aku bergegas dengan pakaian terbaikku, bergerombolan dengan teman sebaya. Mata tak pernah lepas dalam pencariannya. Diantara banyak hijab putih, memilih banyak diantara banyak pilihan. Masih kecil sudah kenal hukum alam, pilih banyak minimal dapat 1. Adzan berkumandang, gerombolan kami masuk dengan gagahnya, berharap ditatap sang pujaan hati. Saat berceramah, kami keluar, berdiri melewati baris paling belakang ukhwat. Apalagi kalau bukan cari perhatian ukhti.
Pelataran mesjid menjadi tongkrongan para pemuda mabuk perhatian. Sesekali gadis keluar, entah memenuhi panggilan feromon atau sekedar menyapa rasa. Kamar kecil itu menjadi alasan atau kadang-kadang sekedar berjalan tanpa tujuan. Kesempatan itu tak terbuang percuma bagi sebagian besar kawan. Mendekati, rayuan canda serta pamer kesombongan dalam bentuk apapun. Yang jelasnya dapat menarik perhatian target. Itulah cinta masa kecil tanpa penjelasan, semuanya berjalan apa adanya, penuh kepalsuan murni tanpa menyadari bahwa kami bagian dari drama kehidupan yang mengalir tanpa skenario.
Tidak hanya sampai disitu, jiwa petualang dan ingin mengenal suatu yang baru selalu berkecamuk dalam diri. Satu mesjid tidak cukup untuk memamerkan pesona. Kami menjelajah beberapa mesjid di pelosok-pelosok kota. Kami belaga artis yang memenuhi panggilan penggemar jiwa diri. Artis yang umumnya di cari oleh fans tapi kami sangat berbeda, kami yang mencari fans untuk menunaikan pesona. Seiring waktu menghabiskan ramadhan, perlahan panggilan jiwa kami berkurang, mungkin karena jenuh atau penggemarnya sudah bosan. Suasana Mesjid juga perlahan redup, menanti cahaya lebih terang untuk hari kemerdekaan jiwa.

Ayah Ajari Aku

Semenjak mengenal dunia, ayah belum pernah mengajari aku untuk hidup. Ayah belum pernah mengajarkan aku bagaimana memiliki teman, bagaimana bermimpi, bagaimana bersikap, bagaimana mengenal Tuhan, bagaimana memiliki materi. Tetiba lahir dengan kenyataan bahwa kamu lahir tanpa tuntunan. Terus berjalan mengikuti arus, cercah, pahit, malu adalah bebatuan yang seringkali menghadang alirku. Fatamorgana membangunkanku sesekali, kemudian tertidur lagi dan lupa. Kenyataan yang terasa berat hingga memberatkan orang. Jatidiri yang tak pasti, masih penuh pencitraan bahkan kumpulan puing pengetahuan terurai kembali oleh keterbatasan. Kesombongan masih menjadi momok yang menyenangkan, kebencian tertutupi oleh diam, semuanya terlihat baik oleh prasangka buruk. Teman hanya teman, mencari teman saat lemah. Kemewahan selalu menjadi iming dalam tembok ilusi.

Kini ada sadar dalam ketuk hati bahwa kamu sendiri. Harapan menjadi ketakutan, mereka mengharapkan aku, mengharapkan kebahagian dari perantara tanganku. Cita-cita mulai pudar oleh waktu. Harus kembali membawa kebahagian, harus kembali menunaikan harapan. Pundakku kosong tapi terasa berat. Semuanya terbentuk oleh mata dan telinga maka akupun harus menutup keduanya. Berjalan seakan tiada apa, namun dari dalam ada teriakan, tidak tahu. Hanya ingin bebas, menikmati setiap perpaduan atom yang memanjakan jiwa, mengetahui dalam ketenangan. Namun apadaya, belum terlepas beban balutan ego yang erat. Seadainya ada ayah jadi guru dalam kiblatku, tidak akan seperti ini, sungguh berat. Mungkin maksud Tuhan ingin ajari aku dari beribu manusia sehingga Ayah dipanggil pulang sebelum mengajariku.

Asrama Lamaddukkelleng II, 23:42, Sabtu 23 agustus 2014

From Bandung

Senin 2 juni 2012, pukul 18.00 senja mengiringi kami beranjak ke kota kembang, keceriaan mengawali wajah kawan-kawan dengan penuh harapan indah. Detik demi detik kami lewati, tibalah dipintu gerbang kota bandung atau dengan simbol “Bandung Bermartabat”. Mata sang chemist tiba-tiba keluar dari pejamannya dengan rasa penasaran ingin melihat keindahan kota Kembang yang dihiasi bidadari dengan kulit beningnya dan cuaca dingin yang menyambut kami hingga merenggut ketulang.
Kami menginjakkan kaki pertama di mesjid jami untuk melaksanakan shalat subuh, tak jauh dari mesjid ini. Kami transit ke mesjid raya bandung tapi kali ini bukan untuk shalat melainkan persiapan sebelum kami melakukan kunjungan pertama di STT Tekstil Bandung. Fajar baru menampakkan dirinya tapi sekerumunan orang telah melakukan berbagai bentuk aktivitas disekitar Mesjid ini. Seakan tempat ini menjadi tempat peraduan nasib bagi sebagian kecil masyarakat sunda dan tempat berteduh bagi masyarakat dibawah kewajaran.
Berbeda ketika tiba di STT Tekstil. Rentakan kaki masih terasa sunyi bahkan kami masih harus menunggu waktu yang kami telah tetapkan sebelumnya. Kekosongan ini terisi dengan kenarsisan kawan-kawan kimia, tak lama berselang hentakan kaki menghantarkan kami dalam suatu ruangan dengan kursi yang teratur rapi seperti kotak layaknya ruang persidangan. Nada sambutan, ucapan terima kasih, serta permohonan maaf mewarnai celotehan para dosen STTT dan para chemist. Perkenalan aktivitas dan penelitian civitas STTT menambah puin-puin pengetahuan, ditambah lagi kunjungan di hampir semua laboratorium STTT semakin memberikan kekaguman walau kaki ingin berhenti tapi pikiran memaksa untuk menuntaskan lab-lab yang begitu banyak.
Setelah makan siang kami beranjak ke Industri Yoghurt, Direktur perusahaan ini menyambut kami dengan penuh kehangatan. Beliau memberi wejangan-wejangan dan berbagai manfaat dari susu sapi, sekalian promosi juga. Diakhir pembicaraan di suatu ruangan yang dipenuhi kursi dan meja makan, kami mengangguk segelas yoghurt yang telah kami bayar. Sambil kunjungan ke pabrik pembuatannya yang hanya dapat kami lihat dibalik jendela. Dua jam berlalu perjalanan dilanjutkan ke villa untuk melepas lelah.
Petang menyaksikan kami memperebutkan kamar yang hanya terdapat 4 untuk 49 batang orang, tapi tetap saja mengistimewakan kaum hawa. villa yang berisi berbagai fasilitas, layaknya dirumah sendiri semakin mewarnai kehangatan keluarga kimia ditambah lagi hiasan gurauan dan canda tawa. Dingin menyelimuti kami dalam tidur, tapi tetap saja terabaikan karena lelah yang datangnya lebih dulu. Diluar sana, matahari belum menampakkan cahayanya tetapi keram sudah mulai mengeluarkan airnya. Dengan 2 kamar mandi yang tersedia, nampaknya dapat melayani sekelas tubuh yang butuh keharuman.
Sekitar pukul 7, kami meninggalkan kenangan baru dan melanjutkan tujuan akhir di kota kembang. Balai Badan Pulp dan Kertas (BBPK) juga telah mempersiapkan sambutan, walau kami datang telat, tetap saja semangat yang diberikan tidak luntur. Aliran pertanyaan dan jawaban memberikan wawasan baru dalam dunia kerja maupun dalam olahan pikiran. Seperti sebelumnya, pertemuan kami diakhiri dengan kunjungan kebeberapa laboratorium di BBPK ini.
Setelah melewati kunjungan industry, kami mengakhiri dengan berwisata ke kawah putih yang terletak di bandung selatan. Dengan memakan waktu 2,5 jam, kami akhirnya menikmati pengalaman baru, dimana diangkut ke kawah dengan mobil yang seharusnya open cup tetapi dimodifikasi dengan model yang lumayan bagus, yang dilengkapi dengan kursi 3 baris dan memuat 12 orang. Setibanya di kawah, dingin yang setia menemani memanggil kawannya dengan bau belerang yang menyengat nafas serta menghidangkan panorama yang begitu indah. Hijau yang menampakkan dirinya dalam air kawah memberikan kepuasan batin serta pegunungan yang mengelilingi melengkapi kenikmatan yang tak terukur. Cahaya dari kamera pun tak hentinya menyajikan ilusinya.
Akhirnya tiba waktunya kami harus kembali ke kota bandung, dan mengunjungi perbelanjaan cihamplas. Tapi macet menghalangi jalan kami sehingga sampainya disana, para pintu pencari rezki sebagian sudah tertutup. Kami memanfaatkan apa yang ada, penjual baju khas bandung dipinggir jalanpun menjadi serangan para sang chemist. Ketika rasa lapar telah menghantui kawan-kawan kimia, perjelanan kami lanjutkan walau tiga dari kami harus pergi lebih dulu. Tidur sedikit menahan rasa lapar hingga tiba di rumah makan padang lagi. Karena sebagian besar rumah makan di kota ini sudah tertutup. Persinggahan berikutnya di pusat perbelanjaan oleh-oleh. Akhirnya kami kembali ke kota yogya dengan membawa cerita baru. Terima kasih Tuhan dan terimakasih Chemist 2010 UIN Sunan Kalijaga serta 3 Chemist 2011 serta semua Pihak yang terlibat, khususnya Astrid dan Adit sebagai Guide kami di Bandung.