Sejarah singkat penyebaran islam

Andalus

http://www.hispanicmuslims.com/andalusia/andalusia.html

Ataturk Turkey

http://lostislamichistory.com/how-ataturk-made-turkey-secular/

southeast asia

http://www.oxfordislamicstudies.com/Public/focus/essay1009_southeast_asia.html

China

http://www.islam.org.hk/eng/eislaminchina05.asp

India

How Islam Spread in India

almost complete

http://history-world.org/islam.htm

Iklan

Kematian

Meletakkan kematian 5 cm di depan mata, 50% berada dipikiran dan 100% persen mengisi ruang hati serta menjadi teman terbaik dalam setiap tindakan. Tidak ada obat yang menyembuhkan bagi jiwa dan raga selain kesadaran atas kematian. Menolong sesama manusia sebagai bentuk ketakutan akan ketiadaan yang segera menghampiri dan kita tidak memiliki tawaran kebaikan agar bisa duduk disisiNya.

Jarak 5 cm adalah perumpamaan terbaik untuk kematian, jika benda tepat menempel dimata, manusia akan sulit melihat kematian itu begitupun jika melebihi akan memberikan ruang yang lebih besar sehingga mata masih terlena akan adanya benda lain. Jadi 5 cm adalah posisi atas penglihatan kematian yang terbaik. Dalam maksud, melihat seisi dunia sebagai kekosongan, ketiadaan sebagaimana mata itu sendiri adalah kesimpulan bayangan dan ilusi.

Porsi 50% dalam pikiran adalah bentuk keseimbangan antara dimensi fisik dan spritual. Meskipun keduanya akan berlabuh pada akhir yang sama. Manusia bekerja keras seakan-akan akan hidup begitu lama dan beribadah seakan-akan kematian selangkah di depan raga. Itu pepatah kuno, kita bekerja keras saat ini karena waktu kematian semakin dekat sehingga tidak ada waktu untuk berbagi melalui kerja karena kerja merupakan salah satu jalan untuk berbagi. Jadi keduanya adalah karena kematian sehingga harus bekerja keras dan beribadah, dengan ini, niat dan jiwa menghadapi kehidupan dapat sejalan.

Hati atau jiwa di isi 100% kematian karena dia bagai pusat dari segala tindakan dan pikiran, ketika hati terkontrol dengan utuh maka kesadaran akan kehidupan dunia akan semakin terjaga, penjagaan diri diluar kotak duniawi semakin kuat karena subjek akan selalu diatas esensi objek. Hati yang terpenuhi kesadaran akan berjalan bersama dengan tindakan keseharian.

Refleksi kematian ini berkisah dari meninggalnya seorang ayah dari 2 orang anak yang kira-kira masih berumur 5 dan 10 tahunan. Saat beranjak shalat subuh, mikrofon surau mengabarkan tentang kepergian Ayah yang kemungkinan besar menjadi tulang punggung keluarga. Terlihat anak perempuan pertama menjaga mayat ayahnya yang sudah diletakkan disisi kiri Surau. Masih kelihatan tegar diantara orang-orang yang berdatangan untuk menunaikan shalat subuh. Namun Setelahnya, ketika pembacaan doa untuknya yang disematkan ketika usai shalat, wajah yang tegar memudar bersamaan munculnya air mata, begitupula adik laki-lakinya yang jatuh menangis dipelukan ibunya. Innalillahi wainnailahirajiun.

Yang ada dipikiran ini, Apakah mereka sebagai keluarga TKI? Ataukah apakah ibunya sedang bekerja? Tidak bermaksud merendahkan, pengalaman selama disini membuat mengenal karakter para pekerja indonesia. Yang ada dibayangan ini, Jika dia seorang TKI dan terlebih ilegal maka kematiannya pun mungkin akan dipersulit. Kedua, jika ibunya tidak sedang bekerja, Apa yang akan terjadi dengan kesehariannya dan pendidikan anak-anaknya, bahkan jikapun bekerja apakah cukup? Apalagi jika seorang TKI.

Kematian adalah kado terindah bagi seseorang yang memahami sejak lahir, sehingga hidupnya diisi dengan hal-hal baik. Namun apakah patut disalahkan jika seseorang terlahir dikeluarga yang miskin, tidak berada dalam kecukupan harta dan pengetahuan. Keluarga yang tidak memahami arti kematian, sepanjang hidupnya dipenuhi kesulitan hidup, bahkan ketika mati harus dipersulit. Siapa yang seharusnya bertanggung jawab?

 

#surau (mushollah yang aktivitasnya menyamai mesjid, hanya saja ruangan yang lebih kecil)

Ibu bukan kandung

Jpeg

Saya awali menceritakan Indonesia di tepian malaysia. Mulai dari orang-orang terdekat dan pertama-tama ketika tiba di Kuala Lumpur. Ibu bukan kandung dan tidak sengaja, bisa dibilang seperti itu, bermula ketika mencari tempat makan indonesia dan mencari flat yang lebih murah karena pada saat itu tinggal di apartment yang sepertinya bukan untuk kalangan orang yang tidak berada seperti saya. Apalagi keinginan yang kuat untuk mengenal kehidupan para pekerja Indonesia di Malaysia. Sekitar 1 km dari tempat sebelumnya, sejajaran kedai makananan, satu diantaranya ada makanan Indonesia dan beruntungnya dimiliki oleh orang Indonesia, maksudnya, kedai atau semacam ruko ini disewa langsung dan memiliki kewenangan sendiri terhadap keuntunngannya.

Satu keberuntungan karena suami dari ibu ini sejak 26 tahun lalu mencari nafkah di Malaysia sehingga sejak beberapa tahun lalu telah memiliki IC merah, semacam identitas orang asing yang hampir diakui sebagai warga negara setempat. Berbeda dengan kawanan kedai lainnnya, dimana pelayan atau sejenisnya ditangani oleh orang Indonesia dan pemiliknya adalah orang melayu atau cina sehingga jelas keuntungan diatur orang mereka. Pertama kali datang disini, saya memanggil beliau dengan “Ibu” dimana panggilan yang cukup asing antara pelanggan atau penjual, umumnya dengan sebutan “kakak” meskipun jauh lebih tua dari kita. Akhirnya ibu yang berasal dari madura ini, memanggil saya dengan “nak”, secara tidak sengaja terbentuklah jalinan rasa kekeluargaan. Sejak saat itu, seringkali dapat potongan harga bahkan secara gratis makan di tempat ini.

Seperti layaknya seoranng Ibu, ia hanya memiliki tangan namun bercabang untuk kelima anak dan saudaranya di Indonesia. Meskipun lebih beruntung dari TKI lainnya namun kesulitan tidak berhenti disela usahanya. Satu waktu, ketika ibu harus digiring ke kantor polisi karena legalisasi kedainya, dinyatakan tidak memiliki izin jualan sehingga harus membayar sekian ribu ringgit. Yang nyatanya, ibu ini punya surat izin namun penyebab ditangkapnya karena efek kecemburuan dari penjual setempat. Menjadi warga asing adalah resiko yang harus ditanggung namun tidak ada pilihan lain selain mencari nafkah di negeri orang. Belum ketika kekurangan pembeli atau efek persaingan hidangan bahkan diskriminasi pajak warga asing.

Ketika saya tanya tentang, kapan ibu mau kembali ke Indonesia untuk selamanya? Ketika anak saya menyelesaikan kuliahnya, minimal kakak sehingga membantu adik-adiknya. Meskipun penghasilan kecil, tetap akan kembali. Kecintaan Indonesia dan Pengorbanan ibu yang tiada tara…

Ibu

IMG_20160531_213641

Seorang ibu yang tangguh, setia pada kesendirian, menjaga kesucian cinta pada seorang ayah yang tersirat. Ditinggal sejak 23 tahun lalu, saat itulah kehidupan kami berbalik 1800. Ibu yang bergantung pada keringat ayah, tetiba harus berbalik badan, menafkahi 4 anaknya, menyekolahkan 3 anak perempuannya hingga menimang saya yang hanya bisa menangis. Ditengah kesulitannya, dia tetap berkomitmen meneruskan mimpi ayah. Membeli rumah yang diinginkan ayah meskipun kami harus melepas kembali karena kekurangan ekonomi. Mendorong anak-anaknya hingga jenjang S1 meskipun pada akhirnya dia tidak sanggup membiayai kami namun bukan berarti dia menyerah, mengembangkan bisnis dengan modal pendidikan kelas 5 SD. Pada akhirnya bangkrut dan rugi, harta peninggalan ayah hampir semua kami gadaikan. Beruntung kami empat anak-anaknya bisa menyelesaikan kuliah dengan keringat sendiri meskipun harus melewati perjalanan hidup yang penuh tangisan dan gadaian harga diri tapi kami harus tetap hidup. Sejak sekolah dasar, saya akhirnya dititipkan ke keluarga satu ke keluarga yang lainnya. Benar-benar dunia berbalik, ketika rumah ayah menjadi  tempat perlindungan para sepupu dan ponakan, sepeninggalannya, kami anaknya harus membayar.  Sejak saat itu, Ibu tidak mampu memperhatikan gizi saya, kesehatan apalagi pendidikan. Kehidupan benar-benar ingin memperlihatkan jati dirinya. Masa yang terhinakan, di tubuhku yang kecil, saya memberanikan diri untuk menantang dunia. Ketika anak semasaku, mengenal handphone, bagi saya itu masih asing, ketika semasaku dimanjakan beragam kemewahan, bagi saya itu hanya ilusi. Berdiri tegak meski kaki rapuh, perlahan Tuhan mewujudkan melalui tanganku, saya tidak mengharapkan dunia berbalik karena akan merendahkan orang-orang yang sedang diatas. Dunia terlalu fana untuk mengharapkan derajat, namun satu kewajaran atas sebuah kelayakan hidup. Ibu, kini satu mimpi saya tunaikan, semoga doamu menuntun saya mewujudkan mimpi-mimpimu dan ayah yang tersisa. Saya kembali akan menantang dunia, namun saya berjanji akan selalu bersama orang-orang bawah, orang-orang yang terinjak, orang-orang yang harus mempertaruhkan harga dirinya demi ekonomi. Ibu, semoga ke tanah suci adalah kado terbaikmu di tahun ini.

 

MEMOMPA SATU KESADARAN LAMA

Setiap manusia adalah pelajaran, terkadang memposisikan sebagai ujian dan seringkali menyimpan pesan. Menyisakan penyesalan menunjukkan kehampaan atas nilai tentang satu pengetahuan karena dalam diri manusia selalu memberi manfaat yang patut dipetik. Keadaan baik menjadi teladan dan hal yang kontras juga menjadi pengetahuan untuk dimaknai.

Ketika sebagaian besar manusia menjaga identitas diri melalui tindakan, perkataan dan pikiran, satu manusia disini lepas kendali atas keseimbangan yang berpegang pada kemurnian. Kelihatannya palsu namun begitulah jalan yang semestinya, proses untuk membentuk jati diri membutuhkan jalan artifisial hingga itu menjadi murni pada diri. Mungkin ini juga bagian dari seni mengontrol diri dan hawa nafsu. Perubahan diri selalu bertaut dengan waktu yang panjang karena berkaitan dengan kebiasaan. Belajar etika membutuhkan 30 tahun dibandingkan dengan pengetahuan umum yang hanya 20 tahun. Menunjukkan proses panjang untuk melawan diri, membutuhkan kerja keras bahkan satu nasehat lama mengatakan musuh terbesar adalah diri sendiri.

Mengenal seseorang secara langsung memberikan pelajaran yang sangat berharga. Disadari atau tidak, Dia telah mengajari saya bagaimana mengontrol hawa nafsu, konsistensi dan perkataan. Bagaimana bersabar dan selalu tenang, bisa dikatakan ujian yang mungkin belum pernah saya dapatkan lebih dalam. Menarik ketenangan dan kesabaran ke dimensi yang lebih luas lagi, ini yang sangat berharga. Membuat saya selalu menyegarkan berbagai macam nasehat, ingatan pengetahuan  yang pernah diterima bahkan yang lebih penting adalah belajar lebih mendekatkan diri pada pencipta karena dia telah menciptakan sakit.

Karenanya, perenungan selalu menciptakan hal-hal baik, keluar dari dunia menciptakan kesadaran yang lebih kokoh. Setelahnya menyisakan pelatihan diri setiap detik dan ingatan atas kesadaran itu sendiri perlu dipatenkan.

Shukron

Hazbunallah wani’mal wakil

Please Don’t be Loser

Seminggu dapat lapisan masalah, tidak berani mengatakan ujian karena ujian hanya untuk orang-orang yang beriman.
Kelanjutan pendidikan, persoalan rasa yang manusiawi dan ekonomi keluarga yang dipercayakan dalam pundak yang lemah ini.Tidak butuh selang waktu yang lama, semuanya lebih hebat dari umpan estafet.

Sempat tersungkur setelah gagal melewati satu proses yang harusnya bisa dilewati namun terhalang atas satu kelalaian dan tipu daya. Pandanganku kabur meski tak ada asap, kaki seakan penuh rantai dan satu tempat melambai penuh kekecawaan. Menabahkan diri dan perlahan Tuhan membukakan jalan-jalannya, tidak harus kembali awal namun hanya buntuh mundur lebih sedikit. Beralaskan keyakinan dan harus berjubah dengan semangat karena waktu bisa menjelma menjadi musuh.

Umpan dilanjutkan pada seseorang yang aku puja dan selalu menari dalam khayalku, mempertegas perasaan yang semestinya sudah jelas, namun tertipu pada penalaranku sendiri. Tiga alasan yang menggerakkan langkahku untuk kembali tidak pasti, Mimpi tentang ayahnya, tanda dalam media sosialnya, dan peristiwa kegagalan yang kiraku berkaitan dengannya. Apakah itu tanda atau sekedar bunga, yang pasti saya telah menemukan obatnya dengan melepaskan.

Estafet berlanjut pada kebutuhan ibu dan saudaraku yang seakan berkiblat padaku, cukup berselang 1 jam melepaskannya, ring hp memberikan teriakan pedih. Tidak mampu melukiskan banyak selain menanti hikmah dibalik keresahan. Jika tidak ada seseorang sebagai tempat untuk berbagi, semoga Tuhan selalu bersama langkahku.

Menyerah hanya akan menyudutkan diriku sebagai pecundang. Menjaga aliran adalah pilihan terbaik. Mimpi menyelamatkan kepedihan tenaga kerja indonesia, mendidik anak-anak di pelosok negeriku dan membasuh tangisan kemanusiaan di palestina dan suriah. Jika saya menyerah pada 3 hal kecil diatas, bagaimana bisa membuat hal yang lebih besar.

Boleh jatuh tapi harus kembali bangun
Jiwa harus lebih besar dari tubuhku, niat harus lebih kuat dari tindakanku.

Bismillah

Hampa

Meninggalkan Jogja dengan perasaan hampa
Entah separuh jiwa atau harapan yang telah terkikis rapih
Mengalir namun seakan ada sisi aliran ini yang meluluh lantahkan
Kembali menjadi nol, mungkin begitulah kesementaraan jiwa ini
Namun disisi lain hati ini seakan sulit menerima
Melewati perjalanan panjang menuju egoisme pendidikan
dan harus mundur dalam keadaan tidak nyaman.

Setidaknya, terimakasih UK

Ketakutan terhadap harapan orang-orang yang berharap
hanya itu, untuk diriku bahkan jika harus mati dalam ketiadaan, Aku rela..
Namun jika mereka, karenaku, harapannya menjadi pupus dan menjelma menjadi kekecewaan
Disinilah penyesalan dalam kematianku

Runtuh, benar-benar ini penyesalan dalam kesalahan,
menempuh jalan diluar idealisme, sejatinya pendidikan bertujuan untuk berbagi
Namun kali ini, kalah dalam melawan diri, benar-benar kalah

Rela memulai dari nol, namun sudah sangat takut memberi harapan.
Ibu, saudari-saudariku, bahkan kamu yang aku puja, ibumu yang menjadi lingkaran perhatianku.
Maafkan aku..

Berbagilah

Tujuan hidup manusia adalah berbagi, atau bahasa tingginya adalah mengabdi. Baik secara horizontal ataupun vertikal. Berbagi tidak harus berbicara, tidak harus terkenal, tidak harus berada diantara tangan ke tangan. Bahkan berbagi tanpa diketahui oleh seisi dunia adalah bentuk penekanan terhadap egoisme, keutuhan atas penyerahan diri pada Tuhan.

Jalan berbagi sangat luas, bahkan dalam berbagai diferensiasi atas dimensi pengetahuan. Manusia dapat melalui dengan ilmu tafsir kitab suci, sosial, sains atau skill umum. Selama ilmu itu menuai manfaat baik kepada manusia, maka itu termasuk ilmu agama. Jika ilmu agama diartikan sebagai ilmu yang ditujukan kepada Tuhan dan ciptaannya maka Ilmu sains yang bermanfaat atas identifikasi bentuk kejahatan, makanan, dan teknologi penunjang kehidupan manusia, maka kimia termasuk ilmu agama. Manusia dan dunia adalah jalan menujuNya. Saat ini, ilmu agama disempitkan oleh sebagian kalangan manusia, seakan-akan ilmu agama hanya bergerak pada lingkaran hafalan ayat, hadist, tajwid, bahasa arab atau lingkaran normatif lainnya, padahal jauh lebih luas dari itu.

Jadi pada dasarnya, manusia belajar, bertujuan untuk berbagi, mencari harta benda untuk berbagi. Namun terkadang manusia lengah atas ketidaktahuan dan hawa nafsu. Manusia diobok-obok oleh kesenangan dunia, diayun-ayun oleh mimpi yang sekedar pemuasan lahiriah. Terlebih hanya publishitas pencapaian semata.

Berbagi ibarat aliran air yang tenang, dia terus mengikuti takdirnya, menjadi perantara kehidupan atas pepohonan, hewan dan manusia. Bahkan dengan berbagai kerusakan ekosistem, dia terus mengalir membawa sampah dari manusia. Namun berhati-hatilah dengan aliran yang deras, bukan sekedar sampah dari manusia namun juga manusia sampah, merusak segala yang sekitar, meninggalkan segala yang pernah bersamanya, bahkan meninggalkan kesan buruk terhadap aliran itu.

Sejalan dengan mimpi, manusia yang terlalu berlebihan mengejar mimpi pemuasan diri, akan menuangkan nafsu, menjadikan penghalang atas segala yang ada disekitarnya. Maka dari itu, bermimpilah ibarat aliran air yang tenang, karena mengalir bagai air adalah bentuk usaha dan penyerahan diri atas ketetapan Tuhan. Berbeda dengan Manusia yang hanya pasrah tanpa usaha, ibarat air dalam bak yang tak terguna, lama-lama berlumut dan terbuang. Jadi Mengalir adalah letak usaha air, bahkan dalam setiap alirannya bisa jadi bermakna terhadap kehidupan sekitarnya.

Dalam keadaan bersih, Aliran air yang tenang akan kelihatan jernih dibandingkan aliran air yang deras. Aliran air yang tenang memberikan kesejukan pada jiwa, memberikan manfaat pada tubuh dan bentuk kedamaian antara manusia dan alam.

Sejarah sebagai Panutan yang Kritis

Perlakuan sama atas dua zaman yang berbeda seringkali menjadi problematika sosial, pemicu munculnya kelompok-kelompok radikal, intelek yang normatif, berujung pada pengetahuan yang luas namun dangkal. Pengetahuan yang benar akan selalu melahirkan kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang seringkali diposisikan sebagai puncak pengetahuan.

Menelah kisah para pembelajar barat dan islam dalam catatan sejarah seringkali dibandingkan melalui keluasan pengetahuan. Ada perbedaan esensi yang sangat signifikan, ketika dunia barat seringkali diperkenalkan ilmuwan-ilmuwan yang menjadi ahli di satu bidang pengetahuan. Misalnya, Einsten dalam bidang fisika, Bohr dalam bidang kimia, Darwin dalam bidang biologi, Freud dalam bidang psikologi dan Marx di bidang filsafat. Mereka tercata dalam sejarah, telah menguasai bidang tertentu namun berdampak besar terhadap perkembangan pengetahuan setelahnya. Mereka tidak tercatat sebagai islam namun memberikan manfaat pada manusia, termasuk islam.

Berbeda dengan sejarah islam seperti Ibnu Tanmiyah, Ibnu Sina, Nashiruddin At Thusi, Muhammad Al Fatih dan sekian banyak di era yang berbeda. Mereka tercatat menguasai lebih dari satu bidang ilmu pengetahuan, misalnya filsafat, matematika, astronomi, fisika, dan lebih penting tentang hafalan al quran. Ilmuwan yang hebat pada zamannya, ketika manusia masih berputar pada perebutan kekuasaan dan peperangan. Mereka telah meraba dunia, merenungi kejadian-kejadian alam, bertaut dengan keyakinan tentang pencipta, mereka diketahui sebagai islam, bukan pengakuan dari dirinya, tidak seperti yang dilakukan para penjual agama saat ini, namun mereka diketahui dari pengakuan manusia saat itu dan setelahnya.

Kemudian, siapa yang lebih hebat diantara mereka? Itu hanya pertanyaan bodoh. Kaum barat yang radikal akan menghilangkan jejak pengetahuan muslim dalam perkembangannya. Kaum agamis yang fanatik mengagumkan perannya dengan wujud yang parsial. Einsten dalam kedalaman relativitasnya bahkan mengakui kemustahilan atas ketiadaan zat pencipta. Namun itu bukan ukuran dalam menilai setiap manusia. Yang menjadi titik fokus adalah ketika manusia membandingkan satu diantara ilmuan dengan ilmuan lainnya secara fanatik, sedangkan pengetahuan sendiri tidak mampu diukur. Bukan tentang ilmuan muslim atau barat yang lebih hebat. Namun bagaimana mensintesis setiap pengetahuan , sebagaimana hakikat manusia yang diciptakan secara kuantitatif.

Einsten yang menghabiskan hidupnya dalam ilmu fisika tidak dapat dibandingkan dengan Ibnu Sina yang jauh di zamannya menguasai kedokteran, filsafat, agama. Manusia belum tentu tahu seberapa dalam ilmu kedokteran pada saat itu, matematika, atau filsafat. Kemungkinan, matematika saat itu masih berputar pada algoritma, kemudian digeneralkan bahwa ilmuwan itu sebagai penguasa matematika. Kemudian Einsten yang hanya berkutat pada fisika, namun bercabang dalam berbagai spesifikasi fisika. Perumpamaan ini menunjukkan perbandingan pengetahuan tentang esensi area pengetahuan yang tidak layak dilakukan oleh pembelajar bijak. Hal ini patut dikritisi dalam proses meniru. Keduanya memberikan khazanah yang sama dengan jalan yang berbeda.

Dalam ragam satu agama islam juga melahirkan berbagai isu yang pada prinsipnya sama. Isu yang sangat sensitif adalah kitab suci. Setiap agama memiliki pedoman hidup, baik yang berasal dari rumusan rasio manusia, ataupun yang notabenenya berasal dari Sang Pencipta, yang kemudian diolah dalam pikiran manusia. Pikiran yang seringkali berperan penting dalam sebuah pemahaman, baik parsial maupun universal yang seringkali menyebabkan multitafsir sehingga sejarah pemikiran merupakan komponen utama dalam sebuah keyakinan.

Manusia sekali lagi tidak layak, menilai sebuah keyakinan, tidak layak menjadi Tuhan yang menjastifikasi surga dan neraka untuk sesama manusia. Banyak manusia yang bahkan tidak mengharapkan surga namun diletakkan disisi Tuhan. Dalam sejarah, Seseorang yang memberikan makan anjing kelaparan saja dijanjikan dalam surgaNya. Jadi hafidz, sosialis, saintis, psikologis, politis layak dengan surga. Tidak ada ketetapan bahwa penghuni surga hanya hafidz. Bahkan manusia yang tidak memimpikan surga bisa jadi manusia yang dirindukan surga. Sosialis dengan pengorbanan dirinya dalam memanusiakan manusia, saintis dengan pengorbanan dalam penemuan teknologi yang memudahkan aktivitas manusia, psikologis yang mengedukasi etika sosial dan peningkatan kesadaran, para pendakwah yang seringkali mengingatkan manusia ke jalan Tuhan. Mereka semuanya layak, jadi bergerak dalam satu ilmu saja dapat menjadi pertimbangan disisi Tuhan.

Dunia dan manusia adalah perantara jalan menuju Tuhan, Jadi seyogyanya, manusia tidak layak mempersempit jalan menuju Tuhan.

#Medan-Padang-Jakarta-Yogya 19,20,21 Maret 2016