Mengalir (II)

Hidup diantara kepastian dan misteri, kepastian akan awal dan akhir, ditengahi oleh misteri. Mimpi adalah bahasa lain dari misteri, dunia adalah tempat atas permainan misteri, manusia terkadang tak berdaya atasnya. Perwujudan mimpi bukan hasil dari misteri namun hanya satu diantara akhir yang pasti.

Mengalir bukan bentuk kepasrahan atas sebuah akhir, namun sisi yang memberi keseimbangan adanya ketetapan. Air menguasai 70% bumi, demikian pula dalam tubuh manusia. Dia terus mengalir mengikuti takdirnya. Danau, rawa dan segala ketenangan air yang tampak, tidak menjelaskan suatu ketenangan yang tenang. Diam mengalir, bergerak dalam keterbatasan mata. Bergerak mengalir, disana letak usaha dari air, mengalir adalah bentuk kerja yang disempurnakan atas penerimaan. Para pemimpi dan pembelajar, mengalirlah…

Karena perjuangan dan ketetapan berada diantara aliran.

#Kuala lumpur to Medan 18 Maret 2016

Mengalirlah

Mengalirlah…

Mengalir adalah bentuk usaha dan kepasrahan atas ketetapan Tuhan,

Bukan maksud meniadakan mimpi,

Namun mimpi yang berlebihan hanya bentuk pemuasan nafsu,

Sejatinya hidup, berlebuh pada pengorbanan diri,

menafkahkan dunia, bukan menghamba,

letakkan mimpi hanya untuk berbagi, maka setiap hari mimpi bisa tercapai,

Tak usah bermimpi menghancur konstatinopel karena itu telah hancur,

yang dibutuhkan hanya bergerak sejalan dengan waktu yang tidak bertoleransi,

 

Mengalirlah…

Mengalir adalah gerakan yang terus menerus,

Membawa yang tertinggal di ujung negeri sana, yang haus atas sejuknya pengetahuan,

Membawa tangis petani, atas kuatnya tangan penguasan yang tak bernurani,

Menghilangkan penjajah yang terus mengekang rakyat jelatah,

Menghilangkan penguasa yang berkhianat atas negerinya,

 

Mengalirlah..

Ingin kecil dalam tabuh yang mendewasa

Elok, murni dan selalu berbalut kejujuran. Jiwa bertangkup dengan waktu, ada yang terpaku, gial dan beriringan. Jiwa seyogyanya memancar dari titik pusat kesadaran, menyikapi matahari dalam pusat tata surya. Paradoks dengan hati, menunduk, bersembunyi namun berkuasa atas jiwa. Jalan semestinya.

Mengenal, berjibaku dengan keriangan, masa itulah yang paling berharga. Kecil, mengekspresikan cinta dengan kejujuran, mengappresiasi cipta dalam ketulusan. Kini, Kedewasaan dunia semakin absurd dengan kepalsuan, tersingkir atas ego yang melebihi hakikatnya. Masa itu, sungguh tidak tersentuh keserakahan, tidak menjelma berbagai rupa watak, murni tidak terjamah akan eksotisme mimpi. Layaknya Egoisme terbelala dengan pesona Eiffel, tertidur diatas keindahan sakura, Meringis atas ketinggian Liberty.

Menyingkirkan masa keemasan jiwa, kembali kecil dalam tubuh yang mendewasa seakan hinaan atas sikap yang tak beranjak, padahal, disana ada kemurnian di masa yang kecil. Dewasa seakan penuh pengetahuan, meremehkan setiap jiwa yang senantiasa tenggelam kejernihan, melihat segalanya dalam pandanngan setitik.

Onggokan tubuh dan jiwa layak untuk beranjak, namun kembalilah sesekali agar hati yang kecil tidak kesepian, agar kejujuran tidak menjadi antik, agar kemurnian tidak ternodai atas buasnya dunia.

Not-not tentang Rindu

Tertindis atau terabaikan bukan tentang sebuah egoisme namun upaya membangun irama yang menyentuh, menyadarkan tentang satu detik kehidupan, menyadarkan pentingnya satu kehadiran. Dalam Cinta, lisan sulit mengungkapkan, takut atas kedalaman Tuhan terlampaui. Namun diri tak mampu menafikkan bahwa rasaku padaMu terpercik padanya.

Singkatnya pertemuan memupuk rindu yang semakin dalam, menyatu dalam batinku, membara dalam ingatanku, akankah kau menghadirkan dia dalam setiap detik waktuku? Menemani dalam setiap perjalananku, dalam gairah berpengetahuanku dan dalam tidurku. Agar fikirku tak tergoyah atas jarak yang membatasi pandanganku.

Diriku ditimang dalam ketidakpastiannya, mengagumi tanpa balasan namun mungkin disitu letak ketulusan. Sungguh penuh irama yang memabukkan, not yang tinggi mengeluarkan bunyi amarah yang menghitamkan segalanya, memadamkan dengan bersujud pada waktu dan lagi kerinduan itu muncul dalam pedihnya kesunyian.

Seringkali terdengar suaramu yang samar, tangismu yang manja, dan senyummu yang mendamaikan meski tidak nyata, bagai pesan angin yang terjamah oleh bayangan tentangmu.

Tuhan maafkan aku. Lagi, aku merindukannya…
Selalu menanti hari-harimu. Selamat ulang tahun, 26 Januari 2016

SayangNya Tuhan

Tuhan sangat menyayangi, Jika sejenak menoleh kebelakang, begitu panjang jejak-jejak langkah bahkan sebagian lagi sudah tak nampak. Kesedihan dan kebahagian seakan dibatasi garis yang lebih tipis dari benang. Keduanya berlari estafet di dua ruang yang berbeda namun berirama mengikuti satu nada riuk disisi yang hening. Sekali berbagi, mengembalikan sentuhan hitam di titik tengah, membangunkan dari drama mimpi yang sulit dibedakan dengan ilusi.

Kini, berada di pertigaan jalan, di belakang terdengar teriakan harapan yang sesaat redam dengan riuhnya angin namun kembali lagi berdesir lebih besar. Jalan sisi kiri berbisik tentang sebuah kasih yang terlihat murni namun terefleksi samar, seringkali mata menatap tajam meraba tentang sebuah kepastian, mencari kunci untuk ruang yang tak berpintu. Mungkin sebuah pengharapan khayal yang entah akan menjadi kisah atau tetap khayal tak berwujud. Jalan sisi kanan, berserakan gambar yang sudah terlukis dalam imajinasi, tersusun rapi dalam pena tanpa tinta. Semakin terlihat jelas, seakan bergerak tak beraturan menjadi puzzle yang menginginkan waktu dan perjuangan.

Mulai berjalan menepi, menghindar dari keramaian yang menginjak-nginjak kaki yang lemah, merebahkan tubuh yang rapuh layaknya dunia yang semakin tunduk dengan keadidayaan pengetahuan manusia. Rasanya ingin mengumpulkan dedaunan dari seluruh penjuru dunia, mendengar keluh kesah yang selama ini membisu. Pudar bersama musim namun setia untuk kembali. Begitu cepat menua, kuning dan jatuh namun hidupnya hanya memberi nafas dalam diam dan menghilang, terus berulang.

Makna yang bertahun-tahun terangkai, tidur dalam hiruk pikuk dan eksplorasi nafsu yang berlebihan. Semua berjalan ibarat robot yang patuh pada kegoisan atas modernitas yang akan menghapus kesetian daun. Simbol-simbol telah mewarnai setiap sudut jalan demi sebuah pengakuan. Ingin terlihat dunia oleh bahwa aku adalah……. bagaimanapun itu palsu. Setiap manusia menyenangi air yang jernih nan tenang, terlihat hingga ke dasar dan menenangkan jiwa.

Namun Tuhan masih menyayangi, ditepian jalan masih ada jajaran pohon ramah bersama sungai, Ibu dan Bapak bermain bersama anaknya di pekarangan hijau yang luas, ayam dan sapi saling menghargai atas perbedaan. Meskipun, itu hanya disekian hektar daratan. Namun masih ada harapan dan kenangan, setidaknya Tuhan masih menjaga jalan melalui kesulitan demi kesulitan hidup atas kematerian duniawi, atas keserakahan diri, atas bertahtanya nafsu terhadap jiwa. Sungguh perjalanan fisik bersama jiwa menyisakan rasa yang saling menekan, kemenangan-kemenangan kecil, kepuasan batin dan kebanggaan atas cinta.

Kenangan, setelahnya, merangkai harapan demi harapan tanpa menanggalkan syukur atas nafas yang saling menyambung hingga detik ini. Harapan untuk kemenangan diri atas diri, Harapan atas cinta untuk cinta, harapan untuk keberadaan atas ketiadaan, untuk kaki pada setiap sisi dunia, menyatukan 3 tujuan dalam 1 jalan. Harapan untuk kemudahan atas perjalanan, pengetahuan dan cinta.

Tuhan tetaplah menyayangi…..

Tenggelamkan Aku dalam Keakuanku

Hai Aku….

Ingatkan aku pada kematian
Sadarkan aku pada ketiadaan
Leburkan aku dalam kesatuan

Adakah hitungan waktu yang lebih cepat dari detik
adakah yang lebih abstrak dari bayangan
Adakah rasa yang melebihi intuisi

Jika yang terdekat denganku adalah diriku
Biarkan aku menikmati kesepian
Kesepian diantara gelap dan cahaya

Bagiku sudah tak ada pemisah
Menjauh dari imajinasiku
Pencapaian tersulit di kedalaman intuisiku

Namun teguhkan aku pada jalan kematian
Jika kematian adalah kesempurnaan hidup
Tuntun setiap ikatan dalam tubuhku

Kuatkan hingga penguat tak nampak
Sempurnakan nilai dalam setiap sentuhanku
Tajamkan penglihatanku menembus drama bayangan

Labuhkan aku pada mahkluk pilihanMu.
Lemahkan nafsuku dalam kekuatanMu.
Engkau….

Perfection by Self Control

Self Control, How to manage ourself to be perfect one, perfect human being without any assessment of others human. It fade away in the view and disappear from measurement who have extent dedication although no one realize that because world is transitory stage in which do not gain any endoressment. No body is perfect, I do not truly agree about that because the word might be achieved by the world, we can not assess Allah with that word because it is higher than we can think.

Complicated life felt human is existance unconscious, they stay along inside the box without get out to see overall box so that little bit unobstrutived one impinge everything. Eventually, bustling is inedequate for complying the life caused no void in our spans. We need peacefull in our daily to elevate our awareness and trigger our egoism extinction. Definitely, it need long effort to keep consistence, need supporting environment but more important thing that true religion unlike general comprehension.

Understanding precaution is originated right premise which necessitate to unearth vast insight portraging sistematically to overcame each issues. Every second is usefull to exercise till being customary action. Once more, Our side is important choice to support our grown so that we deserve to select our best partner and situation. People who can retain in best consistance will not be susceptible to being bothered outside their own commitment.

Ultimately, Our certain way resemble stream flowing to encounter some stones, trees, leaves, woods, being adaptable, and then influence, divert, designate, and vary without destroy it. Simple life as has been mentioned is noteworthy life, hence, we can lessen self disorders due to social disorders. Everything is diffuse likely thread which is slightly to break.

To conclude, temporary life needs to settle in precise line without perceive our existance. Imperfection only for one who can not resist theirselves to face everything that they meet. Who can get it will be tremendous one without any comparison. May Allah endow our thought to the right thought.

Kemungkinan Perang Dunia III adalah akhir Zaman

Pencapaian manusia pada teknologi quark telah menembus dinding baja terkuat yang realitasnya berasal dari quark itu sendiri. Jika dirunut berdasarkan size, manusia telah menuntun perabadan dari zaman makro, mikro, nano dan sekarang menuju piko, berakhir pada quark. Namun Zaman piko menujukkan pencapaian empirik yang sangat sulit, mengisyaratkan bahwa entitas ini telah mendekati pencapaian kekosongan namun berenergi, quark. Quark adalah adalah penanda akhir zaman, atau dapat disebut sebagai zaman berkekuatan Tuhan. Dahsyatnya zaman quark lebih dahsyat dari fakta bom atom perang dunia kedua. Ilustrasi inti atom yang berukuran kecil -10 pangkat 15 meter dapat meniadakan hiroshima dan nagazaki adalah otentiikasi kekuatan atom. Fakta mutakhir menunjukkan bahwa ada kekuatan yang lebih dahsyat dari kekuatan atom. Kekuatan yang mungkin mengakhiri zaman.

Dalam spritualitas, Mulla Sadra membahas secara mendalam mengenai ketiadaan dan keberadaan, konstruksi berpikir dengan perdebatan yang rumit nan panjang serta telah melewati berbagai peradaban. Sejak masa Yunani, kemudian Socrates dan kedua muridnya; Plato dengan iluministiknya dan Aristoteles dengan parpatetiknya, berlanjut pada zaman abad pertengahan dari filsuf muslim Al Farabi, Ibnu sina, Nashirudin At Thusi, berakhir pada sintesis filsafat Hikmah Mulla Sadra. Jika realitas Tuhan dapat dicapai oleh akal maka dia bukan Tuhan karena Tuhan tidak mampu dicapai oleh pikiran kecuali melalui perumpamaan-perumpamaan. Dalam buku Perjalanan Pulang ke Tuhan menyebutkan bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Aku tidak bisa memujiMu sebagaimana aku memuji diriMu”. Menunjukkan bahwa realitas tuhan tidak mampu dicapai oleh akal dan fisik yang terbatas ini sedangkan Tuhan adalah realitas yang tidak terbatas.

Keterkaitan dengan teknologi quark adalah dimensi yang tidak tercapai oleh manusia namun dapat merasakan dan menggunakan kekuatan yang super dahsyat. Begitupun Tuhan adalah realitas yang dapat kita yakini melalui perumpamaan namun tidak dapat dicapai dengan wujud yang terbatas. Kemudian dalam dua sisi disini menunjukkan satu asal mula yang sama, bukan dua kutub yang berbeda atau tesis dan antitesis. Kalangan empirik menggunakan metode bottom up sedangkan kalangan spritual dengan metode top down. Dua metode yang ditemui dalam sistem nanoteknologi namun juga tepat dalam ilustrasi diatas. Saintis dengan paham empirisme dan positivisme sedang menggali dunia hingga berakhir pada ketiadaan namun ada sedangkan Kaum spritual seperti sufi dan filosof meniadakan diri untuk menemukan suatu keberadaaan. Semestinya, keduanya akan merasakan bahwa semua ini adalah bayangan, bahkan dirinya adalah bayangan, hanya satu yang benar-benar maujud dan tidak terbatas.

Pada akhirnya, keduanya akan menemukan kekuatan besar dari Tuhan yang termanifestasi dalam ketiadaan dunia. Dunia akan hancur dari turunan sebab atas penemuan kekuatan Tuhan. Pintu ketiadaan itu sudah ditemukan, satu demi satu dalam gelombang besar manusia menghilang, Paris, palestina, suriah adalah bagian dari kekuatan Tuhan. Kaum awam akan menyebutnya sebagai kekuatan jahat, namun tidak menuju pada Tuhan. Kekuatan yang di ibaratkan dalam teknologi nuklir, bernilai baik ketika sebagai pembangkit listrik namun buruk pada pemboman. Ini hanyalah turunan sebab, sebab yang telah dipegang kendali oleh manusia. Kemungkinan zaman ini akan berakhir dengan perang saat ini. Manusia bertanggung jawab atas kendali ini. Allah Azza wa jalla

Pasrah

Sekali lagi firasat membuktikan, kekhawatiran menjadi musuh tersulit. Kita berasal dari satu, yang terhubung dengan berbagai abstraksi. Berupaya menghalangi namun menjadi berat dan semakin jauh, hanya kepasrahan yang menjadi jalan. Kata sudah ditutup rapat, tak ada pencarian, tak ada kerinduan, tak ada pertanyaan. Kekhawatiran akan hanya menjadi boomerang yang telah menyerang balik, kesalahan kecil cukup menjadi alasan besar. Usia menjadi alasan yang membingungkan, mungkin kebodohan dalam memposisikan atau pengalaman yang tak perlu tersampaikan.

#Hafidz #Ma’had, dua kata tetiba menyayat meski tak ada pisau. Pencarian dan pertanyaan hanya akan semakin menggores. Tak ada yang bisa dilakukan selain berbicara pada media yang mungkin tidak tersampaikan ini. Manusiawi, alasan yang sangat lumrah namun sekali lagi tak terbantahkan.

Namun apa daya, Diri ini berasal dari batang kebodohan yang terus belajar namun kebodohan ini belum jua tergerus. Hafidz, penghafal, mungkin malaikat yang menjadi idaman dalam pikiran wanita yang mudah menjanjikan surga, semoga tidak melangkahi hak Tuhan.

Karenanya, telah berjuang melawan diri, bertanya dalam rabaan pengalaman. Mengapa mesti dia? mencoba menyimpulkan alasan, harapan akan salah satu jalan mencapai Dia. Alasan! Apa benar? itu hanya membangun alasan karena rasa suka? sebuah pergolakan dalam diri.

Namun Satu pengalaman terakhir yang pasti! Berbagai pengalaman dalam konsistensi pemahaman al quran, etika, terlebih ketika bertemu dengan wanita, terdapat pengendalian ketika mengingatnya. Lagi, perjalanan rasa yang tak biasa, dahulu, jarak akan meninggalkan rasa, tapi ini tidak! Lagi, dahulu seringkali melangkahi panggilan Tuhan karena seorang namun kali ini merasa lebih dekat denganNya. Semoga alasan ini cukup.

Kini sedang berpikir menggantungkannya pada Tuhan, mungkin diri ini bukan bagian dari rangkaian sebab menujunya meskipun ada harapan kuat yang tertanam.

Mengingat Tuhan dalam setiap nafas, bahkan dalam menyenangi makhluknya. Meski sendiri tanpa ada teman pengingat, semoga Tuhan berkenan Langsung. Syukur dan sabar adalah 3 tingkat terakhir menuju Nya. Meskipun ada satu Tingkatan pertama yang sering terlewatkan namun selalu kembali untuk memulai.

Kuatkanlah.

Tuhan, saya sangat menyukainya. Jika dia satu diantara jalan terbaikMu. Aku pasrahkan jalannya. Maafkan atas ketidaksabaranku. Maafkan atas upaya perlindunganku yang kecil, jauh atas kebesaran perlindunganMu.

Tuhan, jika aku harus meninggalkan segalanya demiMu, tuntunlah…

Delightful

Start faster than me, I am glad to know this one. I can not compare betwen me and you right now but it can look at the distinction when I was like in your old. I am not envious but grateful you will be better. Consciousness is more remarkable than own knowledge. Keep it track till you realize that is vacous and you only dedicate yourself  in the right way other side guard your chastity.

rahma

Once I will stay in your time regardless you respect or not. One of my aim, when I can see you in the stage and look your smile in my certain seat althought you do not see me. Keep life and study wherever you are.

in spite of I want to say that this difference that I have ever felt but I do not bother your youth. Just enjoyed and I keep behold you despite I do not know the end.

I  never forget to be happy 🙂